Karyaku

I Like Writing. Menulis apapun yang saya inginkan. ^_^

My Life

Perjalanan Kehidupan yang penuh makna.

Pelajaran

Ilmu dan pelajaran yang kita dapatkan dari semua hal.

Ceritaku

Perjalanan yang seru..... Manis dan pahit..... menyenangkan untuk diceritakan

Download

Berbagai novel, kumpulan ebook dan aplikasi lainnya

Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Senin, 23 Februari 2015

PERJUANGAN
























Ketika suatu hal yg seringkali terjadi, itu akan mejadi hal yang biasa. Terkadang tanpa makna, monoton, tak diharapkan, tak disyukuri dan terlewat begitu saja.
Meski pandangan orang lain akan berbeda, kdang mereka berpikir apa yang kita dapatkan adalah hal yang luar biasa. Tapi bagi qt yg mndapatkannya itu adalah hal yg biasa.
Pengalaman kehidupan seseorang mempengaruhi cara berpikirnya. Seperti seorang pengemis akan rela meminta-minta hanya untuk mendapatkan recehan. Dan si pemberi merelakan uangnya dan merasa bahwa ia tak membutuhkan uang itu.
Perjuangan dalam mendapatkan sesuatu hal mmang diperlukan agar kita mampu lebih menghargai hasilnya. Itulah kenapa Tuhan memberikan kita kesulitan2 agar kita menjadi manusia yg bersyukur dan selalu mengingatnya. Kehidupan akan mengajarkan hal yg baik pada org yg berfikir positif. Tapi sebaliknya kehidupan akan terasa sulit bagi dya yg berfikir negatif. Kehidupan itu sendiri adalah pelajaran. Pelajaran bagi kita yang mampu bersabar dan bersyukur atas apa yng diberikan Tuhan.
Di bus, 14.28
23 Feb 2015


Rabu, 18 Februari 2015

RINDU


Apa kau tahu aku sangat merindukanmu
Seperti bulan yg menunggu matahari

Hanya diam dalam sinarmu

Aku tahu kau dimana, 

tapi aq hanya menunggu waktu yg tidak pasti hanya utk bertemu

Heny menuliskan sebuah puisi di bukunya. Lalu dia, menghapusnya dan berharap rasa itu juga terhapus di hatinya.
Rya pun hanya selalu bisa tersenyum simpul karena ia pun tak mengerti bagaimana sesungguhnya perasaan sahabatnya itu.
Rya : sepertinya kau sedang sedih?
Heny : Aku hanya bingung, bingung dengan perasaanku sendiri. Dilain pihak aku ingin melupakannya dan itu berhasil, tapi suatu ketika aq tetap sedih seperti kehilangan sesuatu.
Rya : apa kau mencintainya?
Heny : entah, aku tidak yakin ini cinta.
Rya : kenapa tidak kau ktakan saja kalaw kau rindu dgnya.
Heny : tidak semudah itu, ada garis batas diantara kami. Jika kami melanggarnya, kemungkinan kami akan jatuh ke jurang
Rya : sama2 sakit, diam atau pun mngatakannya ya. Sebuah kemungkinan blm tentu terjadi. Tapi terserah padamu. Kau lebih tahan yang mana. Hanya doa yg akan mmbuatmu lebih baik.
Heny : iya, dan lebih baik lagi aku tak mengenalnya
Merekapun termenung berdua menatap langit2.
Rya dalam hati "itulah cinta..."

Bicara Mata Batin

B : Kau lihat laki-laki yang
sedang berjalan ke arah sana? Kau
lihat betapa terlihat tegar
wajahnya, senyumnya, bahkan sinar
matanya? Ku beri tahu, dia adalah
laki-laki yang rapuh saat ini.
Beberapa hari yang lalu dia
kehilangan cintanya, padahal dia
belum memilikinya. Dia sudah
kehilangan.
A : Bagaimana kau bisa tahu?
B : Itulah mata batin.
A : Apa yang membuat dia
kehilangan?
B : Waktu, dia kehilangan waktu.
Dia datang terlambat pada seseorang
yang dia cintai sejak lama
A : Seberapa lama?
B : Mungkin seumur sekolah.
A : Kasihan sekali dia, bagaimana
menurutmu?
B : Iya, tapi itu akan menjadi
pembelajaran hidup terbaik baginya
bila dia mampu menyerap semua
kejadian itu dengan hati yang
lapang dan pikiran yang lurus.
A : Semoga begitu.
Aku menatap kosong pada laki-laki
yang sedang berjalan dengan langkah
yang tenang dan sinar wajah yang
tidak terlihat sama sekali
keresahan. Bahkan aku tidak
menyaksikan kerapuhan itu sama
sekali. Sampai pada satu
kesempatan, batinku mengajakku
jalan-jalan di gelap pagi sebelum
matahari terbit. Ku saksikan laki-
laki itu sedang duduk di depan
layar komputer, menulis sesuatu.
Aku mendekati laki-laki itu tanpa
suara. Aku mengintip apa yang dia
tulis.
A : Aku baru mengerti tentang
sebuah kerapuhan yang kamu katakan
beberapa hari yang lalu tentang
laki-laki ini.
B : Ya begitulah, setiap orang
yang kembali dalam kesunyian dan
kesendiriannya akan menjadi dirinya
sendiri. Segala keresahan itu akan
datang, kekhawatiran itu akan
muncul, dan air matanya yang tak
pernah kau lihat itu akan mengalir
sejumlah banyaknya huruf yang dia
tulis, mungkin lebih banyak.
A : Begitu mengerikannya kesepian
dan kekosongan.
B : Untuk itu, banyak orang
mencari teman. Sayangnya, tidak
semua orang bisa menemukan teman
yang dia cari.
A = Aku
B = Batin



Rumah, 12 Februari 2015 |
(c)kurniawangunadi

Orang Baik




"Ada dua jenis orang baik di dunia ini
yang aku temukan sepanjang melakukan
perjalanan," ujarku pada temanku suatu
sore.
"Bagaimana kamu bisa
mengklasifikasikannya menjadi dua?"
tanya temanku heran.
"Dengan menemukan mereka dan
mengetahui potongan hidupnya",
jawabku.
Temanku mengernyitkan dahinya.
"Orang baik jenis pertama adalah orang-
orang yang sedari kecil terjaga, memiliki
lingkungan tumbuh yang baik, memiliki
orang tua yang baik, teman yang baik,
hingga mereka hampir tidak pernah
bersinggungan dengan hal-hal buruk
dengan kadar serius. Hanya kenakalan
kecil yang masih wajar"
"Yang kedua?" tanyanya.
"Orang baik yang kedua adalah orang-
orang yang dulunya bukan orang baik,
tapi berubah menjadi orang baik. Orang
jenis ini lebih banyak daripada jenis
pertama. Mereka adalah orang-orang
yang berhasil keluar dari kelam hidup
sebelumnya," tambahku.
"Aku mengerti, cerita orang pertama itu
sebagaimana Rasululloh. Ia terjaga bahkan
sejak lahirnya. Orang kedua adalah
seperti sahabat-sahabat nabi, mereka
adalah orang-orang dengan masa lalu
yang kelam, tapi berhasil keluar dari
semua itu dan menjadi orang yang luar
biasa baik,"
"Iya dan saat ini orang jenis kedua ini
biasanya lebih bijaksana dalam
menghadapi hidup karena mereka tahu
dan pernah menjadi orang jahat", aku
melengkapi.
"Apakah kita termasuk orang baik jenis
kedua?" tanyanya.
"Aku harap kita demikian. Aku
menemukan di luar sana banyak orang
ingin menjadi baik, tapi tidak tahu
caranya. Ada yang ingin menjadi baik,
tapi orang lain sibuk mencacinya dan
menganggapnya cari muka. Mereka ingin
mengubah dirinya, tapi lingkungan justru
tidak mendukungnya. Mereka ingin
mengubur masa lalunya yang kelam, tapi
orang lain senang sekali menggalinya."
Kami berdua tenggelam dalam pikiran
masing-masing.
"Apakah kiranya ada orang yang bisa
menerima kita dengan masa lalu sekelam
ini?" tiba-tiba kawanku ini bertanya resah.
"Maksudmu?" aku ingin memperjelas
pertanyaannya.
"Orang yang bisa menerima orang seperti
kita menjadi pasangan hidupnya? Bahkan
aku takut untuk memikirkan itu karena
aku merasa tidak cukup pantas untuk
itu", tatapnya kosong.
Aku ikut menatap langit-langit dengan
kosong.
"Entahlah, bila ia bisa menerima.
Mungkin ia bukan orang, mungkin
malaikat", jawabku.
Kami tenggelam dalam keresahan kami
masing-masing.
Rumah, 9 Februari 2015 |
(C)kurniawangunadi

Tempat Berbagi


Hidup semakin kesini semakin berjalan
cepat, dan saat kau tidak bisa berjalan
secepat hidup ini atau lebih cepat
darinya. Aku akan kalah. Seperti
kekalahan-kekalahanku sebelumnya.
Aku tidak pernah menceritakan
bagaimana hidupku di masa lalu kepada
siapapun, tidak pernah pula mengijinkan
orang lain masuk ke dalam hidupku saat
ini. Sekalipun ada beberapa orang yang
mampu dekat denganku, mereka hanya
tahu sebagian kecil saja.
Aku sudah terbiasa sendiri, mengatasi
segala masalah sendiri, menyimpan
semua hal sendiri. Meski aku tahu,
manusia pada umumnya akan
memandang sebelah orang-orang yang
terus menerus hidup dalam
kesendiriannya. Aku belum menemukan
alasan yang tepat untuk hidup berbagai
dengan orang lain. Aku merasa cukup
dengan diri sendiri, atau mungkin aku
belum selesai dengan diri sendiri.
Kini ketika satu persatu temanku
memutuskan mengakhiri kesendiriannya.
Aku bertanya-tanya, orang seperti apakah
yang sanggup berbagi hidup denganku.
Aku bukan siapa-siapa, bukan seseorang
dengan segudang amal mulia, bukan
seseorang dengan setumpuk gelar baik,
aku bukan siapa-siapa karena aku selalu
dengan diriku sendiri.
Aku bertanya-tanya, seperti apakah orang
yang mampu menerima apa yang aku
miliki meski aku tidak memiliki apapun
sebenarnya. Dan ketika aku melihat
teman-temanku yang baik satu persatu
menemukan tempat berbaginya, aku
bahagia sekaligus sedih. Sebab, aku tahu
aku bukan siapa siapa dan tidak menjadi
siapa-siapa. Aku sibuk dengan diri sendiri
yang tak kunjung selesai. Dan mereka
bertemu dengan orang yang ternyata itu
bukanlah aku, atau seperti aku.
Aku menghabiskan waktu untuk
menyendiri dan menyimpan segala
pertanyaan itu, sendiri. Tak pernah aku
utarakan ke siapapun. Aku kan mencari
jawabnya seorang diri. Aku tidak tahu,
orang seperti apa yang sedang aku cari,
jawaban seperti apa yang aku inginkan.
Dan aku pun bertanya-tanya saat
diperjalanan bertemu dengan orang yang
sedang mencari hal yang sama, memiliki
pertanyaan yang sama. Lalu kami
mencari bersama-sama.
Pertanyaan-pertanyaan itu tak kunjung
kami temukan jawabnya sampai pada
satu waktu ada orang yang mengatakan
kepada kami, bahwa kami adalah
jawaban dari pertanyaan itu. Dan kami
saling bersitatap tidak percaya.
"Kamukah, jawabnya?"


By : Kurniawan Gunadi

PERCAKAPAN


Laki-laki :
Aku tidak meminta Tuhan untuk
melahirkanku sebagai laki-laki. Dan
ketika aku tahu aku menjadi laki-
laki ketika lahir. Aku menangis.
Betapa tidak. Tanggungjawabku
sangat besar dan aku sibuk
bermain-main. Ketika dalam
genggam tangan dan bahuku aku
disuruh memikul tanggungjawab
pada 4 perempuan (ibu, istri,
saudara perempuan, dan anak
perempuan). Apakah aku sanggup?
Ketika diwajibkan bagiku mencari
nafkah untuk keluargaku. Meski
habis tenaga. Apakah aku kuat
mencukupi mereka semua? Ketika
diwajibkan bagiku mengangkat
senjata dan melindungi kehormatan
keluargaku juga agamaku. Nyawa
kutaruhkan di muka. Beranikah
aku?
Ketika baktiku lebih besar kepada
orang tuaku daripada anak dan
istriku. Mampu adilkan aku? Jika
dipundakku ditanggungkan beban
memimpin kapal rumah tangga
agar mencapaikan surga bagi
keluargaku. Amanahkah aku?
Perempuan :
Aku pun tidak meminta Tuhan
untuk melahirkanku sebagai
perempuan. Ketika aku tahu aku
menjadi perempuan. Aku menangis.
Betapa tidak. Aturan penjagaanku
begitu ketat, karena begitu
berharganya aku. Tapi aku selalu
ingin melepaskan diri dari semua
itu. Kecenderunganku sering
berperang dengan akal pikiranku
yang masih sejalan. Muliakah aku
sementara aku terus menerus
menjual kemulian itu sedikit demi
sedikit?
Ketika diwajibkan bagiku berbakti
lebih utama kepada suami.
Sementara ayah dan ibuku tidak
lagi menjadi keutamaan bagiku.
Akankah aku bisa melakukannya
dengan baik? Ketika menjadi ibu
dan memiliki anak-anak yang
menjadi amanah-Mu. Sanggupkan
aku mempersiapkan mereka
menjadi manusia-manusia yang
baik, setidaknya aku tidak ingin
melahirkan manusia yang
mendurhakai-Mu dikemudian hari?
Menjadi perempuan, menjadi
perantara kehidupan manusia. Kau
titipkan rahim untuk melahirkan
manusia baru dibumi ini.
Pantaskah aku menjadi kehidupan
pertama bagi manusia-manusia
yang akan lahir itu?
Laki-laki dan Perempuan :
Kami tidak meminta dilahirkan ke
dunia. Mengapa kau turunkan kami
ke sini (bumi)? Sedang kami
bertanya-tanya, dengan siapa kami
akan menjalankan tugas besar ini.
Sampai kapan Engkau membiarkan
masing-masing kami seorang diri?
Sementara Engkau yang
memerintahkan kami untuk
bersatu, satu sama lain.
Tuhan :
Sudahkan kalian percaya dan
mempercayakan kehidupan kalian
kepada-Ku sepenuhnya?
– – – – – – – – – – – -


by : kurniawan gunadi

PENGEMBARA

Apa yang ibu bicarakan semalam terasa
asing sekaligus terasa sangat benar. Aku
hidup ditengah-tengah keluarga
perempuan. Saudariku sepupuku semua
perempuan. Di rumah sebesar ini pun,
ayah ku adalah laki-laki satu-satunya
ditengah-tengah 4 orang perempuan, aku-
ibu-adiku-dan satu orang pembantu.
Ibarat buah, akan tiba saatnya dia masak.
Hendak dimakan binatang malam, tinggal
membusuk, jatuh tak terabaikan, atau
dipetik dan diranumkan dengan baik. Buah
tidaklah bisa memilih kapan dia harus
ranum, ada waktunya.
"Kau sudah ranum, gadis seusiamu tentu
harus belajar tentang laki-laki meskipun
kau bersikeras menolak kehadirannya Nak" ,
Ibu berkata lembut sembari melanjutkan
rajutannya. Sebuah syal dengan benang
terbaik. Untuk ayah.
"Semakin kau menghindar, kau akan
semakin tersesat dan itu akan
membahayakan dirimu sendiri.
Mengenalnya tidak harus dengan
berdekatan. Sejak Adam hingga saat ini,
laki-laki itu sama. Ya seperti-seperti itu
saja. Baik juga seperti itu dan yang buruk
pun juga seperti itu. Perubahan yang ada
tidak begitu signifikan. Istilahnya belajar
dari sejarah"
Ibu tetap asik dengan bicaranya sementara
aku malas -malasan mendengarkannya
sambil membaca buku. Hanya disambut
dengan sedikit gumaman.
"Daridulu, laki-laki itu pengelana anakku.
Dia adalah pengembara yang selalu
berjalan kesana kemari. Singgah sebentar
untuk menikmati suasana tempat ia
singgah, mencari minum, atau beristirahat.
Selebihnya dia akan melanjutkan
perjalanan. Dan yang bisa memutuskan
perjalanan itu hanya satu : pernikahan.
Kitalah yang memutuskan perjalanan
mereka, membuat mereka menetap pada
satu tempat dan menikmati kehidupan
bersama-sama. Sebelum ada ikatan
pernikahan, laki-laki akan tetap menjadi
pengembara meskipun mulutnya bicara
ingin tinggal menetap. Kau harus hati-hati,
jangan sampai menjadi tempat
persinggahan"
Ibu menghentikan rajutannya dan
memperhatikanku. Aku tersenyum terpaksa.
Mungkin ibu putus asa , ceritanya tak lagi
berlanjut dan itu membuatku memikirkan
kata-katanya. Pengembara, tempat singgah,
pernikahan.
Bandung , 18 Juni 2013
Dan saya hanya bisa terpaku membaca tulisan
ini.

Selasa, 09 Juli 2013

Hukum Ziarah Kubur, Adab-adab, dan Larangannya

Mulanya saya ragu berziarah kubur karena ada teman yang anti ziarah dengan alasan takut sirik, makanya saya cari ilmunya dan alhamdulillah ketemu. Semoga bermanfaat.. ^_^

Beberapa hari belakangan ini banyak pemberitaan mengenai kubur salah seorang da’i nasional yang diziarahi oleh masyarakat banyak. Namun, ziarah yang dilakukan oleh sebagian masyarakat tersebut menuai kontroversi dan kritik dikarenakan sudah melanggar batasan-batasan Islam mengenai ziarah.
Berikut ini kami ringkaskan pembahasan mengenai hukum ziarah kubur dan adab-adabnya dari kitab Fiqih Islami wa Adilatuhu karangan Syaikh Prof. DR. Wahbah Az Zuhaili, seorang ulama fiqih dari Suriah yang sangat masyhur. Kami lengkapi juga dari sumber-sumber lain.

Tentang Ruh si Mayit

Pendapat Ahlu Sunnah wal Jamaah, bahwa ruh yaitu jiwa yang dapat berbicara, yang mampu untuk menjelaskan, memahami objek pembicaraan, tidak musnah karena musnahnya jasad. Ia adalah unsur inti, bukan esensi. Ruh-ruh orang yang sudah meninggal itu berkumpul, lalu yang berada di tingkatan atas bisa turun ke bawah, tapi tidak sebaliknya.
Menurut Salafush Shahih dan para pemukanya, bahwa siksa dan kenikmatan dirasakan oleh ruh dan badan mayat. Ruh tetap kekal setelah terpisah dari badan yang merasakan kenikmatan atau siksaan, kadang juga bersatu dengan badan sehingga merasakan juga kenikmatan dan siksaan. Ada pendapat lain dari Ahlus Sunnah bahwa kenikmatan dan siksa untuk badan saja, bukan ruh.

Hukum Ziarah Kubur

Untuk kaum laki-laki, ulama fiqih tidak ada pertentangan mengenai hukumnya, yakni sunnah. Bahkan Ibnu Hazm mengatakan, ‘”Sesungguhnya ziarah kubur itu wajib, meski sekali seumur hidup, karena ada perintahnya.”
Namun, untuk perempuan, ulama fiqih berselisih pendapat.
1. Sunnah Bagi Perempuan, Seperti Halnya Laki-laki
Ini adalah pendapat paling shahih dalam madzhab Hanafi. Dalilnya adalah keumuman nash tentang ziarah. Sebagaimana dalam sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, “Aku pernah melarang kalian untuk berziarah kubur, maka ziarahilah (sekarang)! Karena sesungguhnya ziarah kubur dapat mengingatkan kalian akan kematian.” (HR Muslim dari Abu Buraidah)
Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah bahwa, “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mendatangi makam syuhada Uhud setiap awal tahun, seraya bersabda, ‘Keselamatan bagi kalian atas kesabaran kalian, sungguh sebaik-baik tepat tinggal terakhir.’”
Namun mereka juga mengatakan bahwa tidak diperbolehkan kaum perempuan berziarah jika untuk mengingat kesedihan, menangis, atau melakukan apa yang biasa dilakukan oleh mereka, dan akan terkena hadits, “Allah melaknat wanita yang sering berziarah kubur.” Namun, jika tujuannya mengambil pelajaran, memohon rahmat Allah tanpa harus menangis, maka diperbolehkan.
2. Makruh Bagi Perempuan
Ini adalah pendapat mayoritas ulama. Sebab asal hukum ziarah mereka itu dilarang, lalu dihapus. Sebagaimana dalam sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, “Aku pernah melarang kalian untuk berziarah kubur, maka ziarahilah (sekarang)!”
Sebab dimakruhkannya perempuan untuk ziarah kubur karena mereka sering menangi, berteriak, disebabkan perasaannya lembut, banyak meronta, dan sulit menghadapi musibah. Namun, hal itu tidak sampi diharamkan.
Dalam riwayat Muslim, Ummu Athiyah berkata, “Kami dilarang untuk berziarah kubur, tetapi beliau tidak melarang kami  dengan keras.”
Imam At Tirmidzi meriwayatkan, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata, “Allah melaknat wanita yang sering berziarah kubur.” (shahih)
Akan tetapi, menurut madzhab Maliki, hal ini berlaku untuk gadis, sedangkan untuk wanita tua yang tidak tertarik lagi dengan laki-laki, maka dihukumi seperti laki-laki.

Tatacara dan Adab Ziarah Kubur

Tujuan utama ziarah kubur adalah mengingat mati dan mengingat akhirat sebagaimana dinyatakan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, “Aku pernah melarang kalian untuk berziarah kubur, maka ziarahilah (sekarang)! Karena sesungguhnya ziarah kubur dapat mengingatkan kalian akan kematian.” (HR Muslim dari Abu Buraidah)
Dari Anas bin Malik, “Sesungguhnya ziarah itu akan melunakkan hati, mengundang air mata dan mengingatkan pada hari kiamat.” (HR Al Hakim)
Oleh karena itu, tujuan itu harus senantiasa dipancangkan di dalam hati orang yang berziarah.
Selain itu, ada beberapa adab dalam berziarah kubur:
1. Dianjurkan Melepas Alas Kaki
Dianjurkan menurut madzhab Hanbali, melepas sandal ketika masuk ke areal pemakaman karena ini sesuai dengan perintah dalam hadits Busyair bin Al Khashahshah:
Ketika aku berjalan mengiringi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, ternyata ada seseorang berjalan di kuburan dengan mengenakan kedua sandalnya. Maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan “Hai pemakai dua sandal, tanggalkan kedua sandal kamu!” Orang itu pun menoleh. Ketika dia tahu bahwa itu ternyata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, ia melepaskannya serta melemparkan keduanya. (HR. Abu Dawud, hasan)
Diperbolehkan tetap memakai sandal jika ada penghalang semacam duri, kerikil yang panas, atau semacam keduanya. Ketika itu, tidak mengapa berjalan dengan kedua sandal di antara kuburan untuk menghindari gangguan itu.
2. Mengucapkan Salam
Disunnahkan bagi orang yang berziarah mengucapkan salam kepada penghuni kuburan Muslim. Adapan ucapan salam hendaklah menghadap wajah mayat, lalu mengucapkan salam sebagaimana telah diajarkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kepada para Shahabatnya ketika mereka berziarah kubur,
“Assalamu ‘alaikum dara qaumin Mu’minin, wa insya Allah bikum laa hiqun.”
Artinya, “Keselamatan atas kalian di tempat orang Mukmin, dan kami insya Allah akan menyusul kalian juga.”
Atau bisa juga dengan lafal lain, “Assalamu ‘ala ahlid diyari minal Mu’minina wal Muslimin, wa inna insya Allah ta’ala bikum laa hiqun. As-alullahu lana wa lakumul afiyah.”
Artinya, “Keselamatan kepada penghuni kubur dari kaum Mukminin dan Muslimin, kami insya Allah akan menyusul kalian. Aku memohon keselamatan kepada Allah untuk kami dan kalian semua.”
Kedua lafazh salam tersebut diriwayatkan Imam Muslim.
3. Membaca Surat Pendek
Dianjurkan membacakan Al Quran atau surat pendek.  Ini adalah sunnah yang dilakukan di kuburan. Pahalanya untuk orang yang hadir, sedang mayat seperti halnya orang yang hadir yang diharapkan mendapatkan rahmat.
Disunnahkan membaca surat Yasin seperti yang diriwayatkan Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Hibban, dan Al Hakim dari Ma’qal bin Yassar, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Bacakanlah surah Yasin pada orang yang meninggal di antara kalian.”
Sebagian ulama menyatakan hadits ini dha’if. Imam Asy Syaukani dan Syaikh Wahbah Az Zuhaili menyebutkan bahwa hadits ini berstatus hasan. Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa membacakan Al Quran ini dilakukan saat sakaratul maut, bukan setelah meninggal.
4. Mendoakan si Mayat
Selanjutnya mendoakan untuk mayat usai membaca Al Quran dengan harapan dapat dikabulkan. Sebab doa sangat bermanfaat untuk mayat. Ketika berdoa, hendaknya menghadap kiblat.
Saat berziarah kubur di Baqi’, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berdoa dengan lafazh, “Allahummaghfir li Ahli Baqi’il gharqad.”
5. Berziarah dalam Posisi Berdiri
Disunnahkan ketika berziarah dalam keadaan berdiri dan berdoa dengan berdiri, sebagaimana yang dilakukan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika keluar menuju Baqi’.
Selain itu, jangan duduk dan berjalan di atas pusara kuburan. Dalam riwayat Muslim, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Sungguh jika salah seorang dari kalian duduk di atas bara api sehingga membakar bajunya dan menembus kulitnya, itu lebih baik daripada duduk di atas kubur.” Sedangkan jika berjalan di samping atau di antara pusara-pusara kubur, maka itu tidak mengapa.
6. Menyiramkan Air di Atas Pusara
Diperbolehkan menyiramkan air biasa di atas pusara si mayat berdasarkan hadits berikut, “Sesungguhnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyiram (air) di atas kubur Ibrahim, anaknya, dan meletakkan kerikil di atasnya.”  Hadits diatas oleh Abu Dawud dalam Al Marasil, Imam Baihaqi dalam Sunan, Thabarani dalam Mu’jam Al Ausath. Syaikh Al Albani menyatakan sanadnya kuat di dalam Silsilah Ahadits Shahihah.
Sedangkan menyiram dengan air kembang tujuh rupa atau menabur bunga, maka itu tidak dituntunkan oleh syari’at.

Hal-hal yang Makruh dan Munkar Saat Berziarah

  • Madzhab Maliki menyatakan makruh hukumnya makan, minum, tertawa, dan banyak bicara, termasuk juga membaca Al Quran dengan suara keras. Tidaklah pantas bagi seseorang yang berada di pekuburan, baik dia bermaksud berziarah atau hanya secara kebetulan untuk berada dalam keadaan bergembira dan senang seakan-akan dia berada pada suatu pesta, seharusnya dia ikut hanyut atau memperlihatkan perasaan ikut hanyut di hadapan keluarga mayat.
  • Syaikh Wahbah Az Zuhaili menyebutkan, “Makruh hukumnya mencium peti yang dibuat di atas makam, atau mencium makam, serta menyalaminya, atau mencium pintunya ketika masuk berziarah makam aulia.”
  • Mengkhususkan hari-hari tertentu dalam melakukan ziarah kubur, seperti harus pada hari Jum’at, tujuh atau empat puluh hari setelah kematian, pada hari raya dan sebagainya, maka itu tak pernah diajarkan oleh Rasulullah dan beliau pun tidak pernah mengkhususkan hari-hari tertentu untuk berziarah kubur. Sedangkan hadits-hadits tentang keutamaan ziarah pada hari Jum’at adalah dha’if sebagaimana dinyatakan para Imam Muhaditsin. Oleh karena itu, ziarah kubur dapat dilakukan kapan saja.
  • Sedangkan shalat persis di atas kuburan seseorang dan menghadap kuburan tanpa tembok penghalang, maka ulama sepakat tentang ketidakbolehannya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Janganlah kalian shalat menghadap kuburan dan jangan pula kalian duduk di atasnya.”  (HR Muslim) Sedangkan jika di samping kubur, maka terjadi sejumlah perselisihan ulama, ada yang memakruhkannya, dan ada yang mengharamkannya. Demi kehati-hatian, kami berpendapat untuk tidak melaksanakan shalat di kompleks pekuburan. Selain itu, Ibnu Hibban meriwayatkan dari Anas bin Malik, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melarang dari shalat di antara kuburan.” Dikecualikan dari hal ini adalah bagi seseorang yang ingin melaksanakan shalat jenazah, tetapi tidak berkesempatan menshalati mayit saat belum dikuburkan.
  • Dilarang juga mengencingi dan berak di atas kuburan. Diriwayatkan Abu Hurairah, bersabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, “Barang siapa yg duduk di atas kuburan, yang berak dan kencing di atasnya, maka seakan dia telah menduduki bara api.”
  • Tidak diperbolehkan melakukan thawaf (ibadah dengan cara mengelilingi) kuburan. Hal ini sering dijumpai dilakukan oleh orang-orang awam di kuburan orang-orang shalih. Dan ini termasuk dalam kesyirikan. Thawaf hanya boleh dilakukan pada Baitullah Ka’bah. Allah berfirman, “Dan hendaklah mereka melakukan Thawaf disekeliling rumah yang tua (Baitul ‘Atiq atau Baitullah) itu.” (QS Al Hajj : 29)
  • Berdoa, meminta perlindungan, meminta tolong,  pada penghuni kubur juga tidak diperbolehkan, hukumnya haram dan merupakan kesyirikan. Berdoa hanya boleh ditujukan pada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sedangkan berdoa dengan perantaraan si mayit (tawasul), maka hal itu diperselisihkan. Pendapat yang kuat adalah tidak diperbolehkan.
  • Tidak diperbolehkan memasang lilin atau lampu di atas pusara kuburan. Selain hal itu merupakan tatacara ziarah orang Ahli Kitab dan Majusi, dalam riwayat Imam Al Hakim disebutkan, “Rasulullah melaknat….dan (orang-orang yang) memberi penerangan (lampu pada kubur).”
  • Tidak boleh memberikan sesajen berbentuk apapun, baik berupa bunga, uang, masakan, beras, kemenyan, dan sebagainya. Juga dilarang menyembelih hewa atau kurban di kuburan. Selain itu, tidak boleh mengambil benda-benda dari kubur seperti kerikil, batu, tanah, bunga, papan, pelepah, tulang, tali dan kain kafan, serta yang lainnya untuk dijadikan jimat.
Sumber

Selasa, 23 Oktober 2012

Kunti Matre



Malam jum'at tiba. Malam dimana para setan diberi kebebasan untuk jalan-jalan lazimnya malam minggu bagi manusia. Ketika waktu hampir pukul 12 malam waktu kuburan setempat, semua setan berdandan layaknya selebritis yang mau pentas. Suster ngesot merias wajahnya dengan menor meski roknya begitu dekil karena dipakai ngesot. Tuyul mengusap kepala botaknya dengan ludah hingga terlihat mengkilap. Di kamarnya, si cantik kunti sedang memilih baju setelah keramas menggunakan shampo anti ketombe, anti jamur, anti pecah, dan anti karat. Tubuhnya yang langsing begitu seksi meski tanpa kaki. Sedangkan sundel bolong sedang berdiri membelakangi cermin dengan raut muka bangga. Berkat obat serangga, punggung bolongnya sudah bebas belatung, bebas kuman, dan bebas formalin. Seorang, eh sepocong Ibu sedang membenarkan tali pocong anaknya, "Ingat nak, jangan berjudi, jangan mabuk-mabukan. Pulanglah sebelum shubuh. Jangan sampai ketemu Ustadz yang hendak ke Masjid. Bisa hangus kamu," nasehatnya pada anaknya yang akan Hang-out dengan teman geng Pocong.

Tepat jam 12, gerbang kuburan dibuka. Seketika mereka berhamburan keluar untuk mencari hiburan. Gerombolan pocong yang tergabung dalam geng Pocong langsung menuju maskas di bawah pohon melinjo untuk pesta miras.

"Eh, elu nggak jalan ama cewek lu si Kunti?" tanya salah satu pocong pada temannya dalam geng.

"Dia cuma ngajak ketemuan. Sekarang nunggu di jembatan ujung jalan. He...he... " Pocong Lakiyo nyengir. Terlihat sebaris gigi tak rapi dan tak putih.

"Terus ngapain lu kesini?"

Dengan memasang tampang afgan nahan berak, pocong akhirnya mengutarakan niatnya, "itu dia masalahnya. Gue minta lu nganter gue. Perasaan gue nggak enak. Garing, galau ringan."

"Malu ama muka. Masak muka serem gitu ketemuan aja minta dianterin. Ogah ! Males gue kalo lewat depan bioskop itu. Manusia sekarang pada sadis melecehkan kita lewat film. Masak kita digambar ngelemprak dengan tulisan POCONG NGESOT. Sebelahnya parah lagi, POCONG MANDI GOYANG PINGGUL. Sejak kapan kita bisa mandi sambil goyang pinggul? Mandi aja nggak pernah kan kita? Mereka fitnah seenaknya. Sakit ati gue !" gerutu pocong yang di ketahui matinya ketiban semut yang sedang pegangan tiang listrik.

"Santai aja bro. Gue ngeliat tulisan POCONG VS KUNTILANAK aja nggak marah. Padahal jelas-jelas yang sebenarnya adalah pocong love kuntilanak. Biarin manusia begitu. Dulu waktu kita masih hidup juga sering membuat fitnah. Ikhlasin aja. Ayo ah anterin gue," paksa si Pocong Lakiyo yang sudah tak sabar bertemu kekasih hatinya.

"Ogah ! Gue lagi pengen mabok bir cap kemenyan cihuy. Pocong Kardi yang bawa. Katanya barang import. Lagian kalo gue ngikut ntar cerita ini jadi banyak tokohnya. Bikin pusing penulisnya nanti. Ha..ha.." Tawa pocong sambil berlalu, meninggalkan sahabatnya resah dalam garing alias galau ringan.

Dengan perasaan galau yang menelusup pikiran, akhirnya si Pocong menemui kekasih hatinya yang telah duduk manis di atas pagar jembatan. Pocong muncul setelah lewat setengah jam dari waktu yang dijanjikan.

"Hai yayang Kunti, ma'af ya telat. Soalnya jalanan licin. Jadi pas loncat-loncat kepleset terus. Untung tadi numpang odong-odong" Pocong beralibi.

"Hmmm...." Kunti menanggapi.

"Aku kan udah minta ma'af. Kenapa kamu masih dingin gitu?" Pocong bersedih.

"Baru dari kulkas."

"Owh.... " komentar pocong lugu, lantas memperbaiki kalimatnya, "Mmmaksud aku kenapa mukamu pucat sayang?"

"Goblok! Ya iyalah. Aku kan setan. Bego' dipiara." umpat Kunti yang makin sebel membuat Pocong makin bingung.

"Oh, bener juga ya? Tapi maksudku bukan itu. Kenapa wajahmu terlihat murung? Adakah yang kamu pikirkan sayang?" tanya Pocong meniru gaya Obama pidato.

"Sepertinya, kita sudahi saja hubungan kita."

"Owh..." komentar Pocong santai.

"Kenapa kamu nggak sedih?" Kunti mengerutkan dahi.

"Ya nggak apa-apa. Kan besok masih bisa bareng lagi. Cuma malam ini kan?" jelas Pocong.

"Maksud aku kita putus... !!!" bentak Kunti melotot.

"Apa?!" Teriak Pocong seakan digigit kalajengking. "Ko' gitu yang? Tapi kan.... "

"Nggak ada tapi-tapian. Ngerti !" tegas Kunti.

"Iya iya aku ngerti. Aku cuma butuh satu tapi," kata Pocong dengan muka memelas.

"Hiiihhh... Susah ya ngomong ama Pocong otak profesor," keluh Kunti.

"Owh, pacar baru kamu Profesor?" Pocong bertanya seakan tanpa dosa.
"Iya...! Profesor Idiot !" kesal Kunti meradang.

"Yang, pliss... Beri aku kesempatan. Aku sudah berusaha menjadi yang terbaik buatmu." Pocong mengiba. Dengan susah payah mencoba berlutut. Namun apa daya terjungkal karena sempitnya kain kafan yang melilitnya.

"Apa? Terbaik? Kamu memelukku saja nggak pernah. Membelai rambutku juga nggak pernah. Kamu nggak romantis !" jelas Kunti dengan melipat tangan didada. " Dan satu lagi, nggak usah aku kamu, panggil lu gue aja. Kita udah putus ! Titik" kembali Kunti menegaskan kebulatan tekad dan kebulatan pantatnya.

"Sayang, bukankah dulu kamu bilang mau menerima aku apa adanya? Aku emang nggak bisa memelukmu. Selain tanganku terbungkus, aku juga masih punya iman. Kita bukan muhrim yang..." Pocong meratap.

"Hai... " Sebuah suara memotong ratapan pocong. Tuyul datang dengan membusungkan dada. Padahal tubuh kuntetnya tidak sedikitpun macho.

"Ma'af, aku sudah memilih dia," ucap Kunti sambil menunjuk ke arah Tuyul.

"Ayo kita jalan-jalan ke mall. Kamu bisa pilih gaun apa saja, biar aku yang bayar," kata Tuyul dengan sedikit melompat untuk meraih tangan Kunti.

Kunti tersipu, wajah pucatnya merona.

"Dasar setan matre! Ke Masjid aje!" Umpat Pocong kesal. Mereka berdua berlalu, meninggalkan pocong yang kini benar-benar ngesot dalam ratapan.

Sumber